Sri Mulyani : Optimistis Defisit Tak Tembus 5 Persen Saat Corona

Menteri Keuangan Sri Mulyani memproyeksi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 tak lebih dari 5 persen.

Ini karena pemerintah hanya memiliki sisa waktu sekitar 8 bulan untuk menggelontorkan belanja sekaligus penanggulangan virus corona.

Untuk itu, ia memastikan tingkat defisit tak akan melonjak terlalu tinggi sekalipun pemerintah harus banyak mengucurkan dana demi memerangi virus corona di dalam negeri.

Corona Virus: Pandemic in America 928,619 positive cases, 52,459 died

“Estimasi saya hanya 4 persen-5 persen. Ini tinggal 8 bulan, kemampuan menyerap pasti terbatas,” ucap Sri Mulyani dalam video confrence, Rabu (1/4).

“Defisit tidak akan lari ke mana-mana terlalu jauh,” tegas Sri Mulyani.

Kendati begitu, ia menyatakan Presiden Jokowi mengingatkan agar defisit yang di atas 3 persen ini tidak berlangsung lebih dari tiga tahun. Artinya, defisit harus kembali di bawah 3 persen pada 2023 mendatang.

Ia mengakui memang sulit mempertahankan defisit di bawah 3 persen di tengah situasi sulit seperti sekarang. Pasalnya.

Pemerintah harus memutar otak menjaga ekonomi dengan mengucurkan banyak stimulus ketika ekonomi bergejolak karena virus corona.

“Penerimaan kami kan juga turun karena banyak diskon pajak demi menjaga industri tidak jatuh karena virus corona. Tapi belanja tetap harus dikeluarkan,” jelas Sri Mulyani.

WHO: Death toll reaches 180,000 lives, Corona will be longer than expected

Diketahui, Jokowi telah meneken peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perppu) sebagai payung hukum relaksasi defisit APBN tahun ini. Dalam perppu tersebut, defisit APBN 2020 diproyeksi mencapai 5,07 persen.

Sementara, Analis Senior Sovereign Risk Group Moody’s Investors Service Anushka Shah mengatakan. Upaya pemerintah untuk mengembalikan defisit fiskal untuk di bawah 3 persen pada 2023 akan menjadi tolak ukur mendapatkan kepercayaan dari investor.

WHO Declares That There Is No Evidence Of Viruses Originating From Laboratory

Meanwhile, Senior Sovereign Risk Group Analyst Moody’s Investors Service Anushka Shah said.

“Persetujuan parlemen baru-baru ini untuk menaikkan plafon akan menghasilkan ekspansi defisit anggaran menjadi 5 persen dari PDB memungkinkan ada ruang fiskal yang lebih besar,” kata Shah dalam risetnya.

Dengan ruang fiskal yang lebar, maka pemerintah memiliki kelonggaran untuk memberikan stimulus ekonomi lebih banyak untuk membantu arus kas perusahaan dan konsumsi masyarakat yang terdampak karena virus corona.

Trump: China Responsible for Stopping the Spread of Corona Virus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *