Mau Hidup Tenang? Yuk, Pelajari Filosofi Stoikisme!

Mau Hidup Tenang? Yuk, Pelajari Filosofi Stoikisme!

Kata stoikisme belakangan tengah banyak jadi perbincangan di media sosial. Bahkan di beberapa YouTube selebritas ternama seperti milik Deddy Corbuzier hingga Raditya Dika pun ikut membahas soal stoikisme.

Dengan banyaknya tuntutan hidup, manusia rentan akan kecemasan hingga terkena stres. Kira-kira, apa ya yang bisa membantu mengurangi emosi negatif ini? Mari belajar filsafat stoikisme.

Apa itu Filsafat Stoikisme?

Dosen Filsafat dari Program Studi (Prodi) Bahasa dan Sastra Indonesia FIB UNAIR Dr Listiyono Santoso SS MHum menerangkan bahwa filsafat stoikisme mengajak kita untuk hidup realistis, membaca diri, antisipasi diri, dan mengevaluasi diri. Hidup manusia harus siap dengan berbagai tantangan dan hambatan.

“Hidup harus benar-benar realistis dan tidak mengkhayalkan sesuatu yang tidak-tidak. Kita juga harus mengantisipasi untuk hidup dalam kemungkinan situasi terburuk. Orang Jawa menyebutnya nrimo ing pandhum, yakni tidak berlebihan, menghadapi dunia apa adanya, dan berorientasi pada kesejahteraan dan kebahagiaan,” papar Dr Listiyono.

Menurut Dr Listiyono, stoikisme seperti mengajarkan kita untuk menghargai waktu. Ada pemahaman bahwa realitas adalah proses riil yang harus dihadapi dengan sungguh-sungguh agar hidup manusia menjadi lebih baik dan lebih etis dari sebelumnya.

Panduan Berpikir Filsafat Stoikisme

Filsafat stoikisme memiliki panduan praktis yang dapat diterapkan dalam cara berpikir. Di antaranya, fokus pada hal yang bisa dilakukan, pengelolaan waktu dengan baik, fokus dengan jalan keluar dari berbagai hambatan, berbahagia tanpa ada sikap egois dan sombong, serta selalu realistis dan antisipatif. 

“Filsafat stoikisme mengajak umat manusia untuk benar-benar memiliki keutamaan hidup dengan sikap praktis dalam hidup yang membahagiakan. Pencapaiannya melalui fokus diri, refleksi diri, dan antisipasi diri,” jelas Dr Listiyono.

Konsep Filsafat Stoikisme

Beberapa konsep yang ditawarkan oleh para filsuf untuk mencapai kebahagiaan, yaitu: 

1. Disiplin untuk mencegah diri sendiri dikendalikan oleh keinginan untuk takut terhadap rasa sakit dan juga penderitaan. 

2. Membuat perbedaan antara apa yang ada di dalam kekuatan kita dan apa yang tidak ada. 

3. Kemampuan dalam melihat diri sendiri, dunia, serta manusia lain secara obyektif dan menerima sifat mereka dengan apa adanya. Untuk mengurangi rasa kecewa atau ketakutan, dapat dlilakukan dengan membentuk pola pikir stoikisme.

Baca juga: Healing Ke Bali Dibawah 2 Juta? Bisa Banget!

Leave a Reply

Your email address will not be published.