Tidak Hanya Sri Lanka, Ini Daftar Negara yang Pernah Bangkrut

Tidak Hanya Sri Lanka, Ini Daftar Negara yang Pernah Bangkrut

Kebangkrutan sebuah negara karena gagal membayar utang luar negeri (ULN) menjadi momok di tengah ketidakpastian ekonomi global. Terbaru, masalah itu menghinggapi Sri Lanka.

Mereka bangkrut karena gagal membayar ULN yang mencapai US$51 miliar atau Rp754,8 triliun (asumsi kurs Rp14.800 per dolar AS).

Karenanya, negara tersebut kekurangan komoditas bahan bakar karena tidak mampu untuk melakukan impor. Pemerintah Sri Lanka pun memutuskan untuk menutup sekolah dan menghentikan layanan pemerintahan untuk menghemat cadangan bahan bakar yang hampir habis.

Kondisi terparah sejak kemerdekaan Sri Lanka pada tahun 1948 itu menyebabkan Gubernur Bank Sentral, Nandalal Weerasinghe meminta warga Sri Lanka yang sedang berada di luar negeri agar mengirimkan uang untuk membantu tambahan devisa negara, demikian seperti dilansir laman France24.

5 Negara yang pernah bangkrut

Sebelum krisis Sri Lanka, ada beberapa negara lain yang pernah bangkrut karena utang. 

Berikut daftar negara-negara tersebut:

  1. Yunani
    Mengutip dari berbagai sumber, Yunani tak bisa membayar utang senilai US$138 miliar atau Rp1.987 triliun (kurs Rp14.400 per dolar AS) pada 2012 lalu.
    Kemudian, Yunani disebut-sebut menyandang status bangkrut pada 2015 karena utang terus meningkat hingga US$360 miliar atau Rp5.184 triliun. Kenaikan utang membuat jumlah orang miskin di Yunani melonjak.
    Jumlah tunawisma naik hingga 40 persen pada 2015. Sementara, pengangguran naik dari 10,6 persen pada 2004 menjadi 26,5 persen pada 2014.
    Yunani kini mulai kembali ke pasar obligasi internasional sejak 2017. Negara itu sempat menghilang akibat krisis utang.
    Tahun lalu, Yunani menerbitkan obligasi bertenor tujuh tahun, 10 tahun, dan 15 tahun. Negara tersebut memperoleh dana segar sebesar 12 miliar euro.
    Dengan penerbitan obligasi pada 2020, rasio utang Yunani diprediksi mencapai 188,8 persen dengan nilai utang 337 miliar euro, naik dari posisi 2019 yang sebesar 331 miliar euro.
  2. Argentina
    Mungkin orang awam tidak akan menyangka bahwa negara sebesar Argentina pernah mengalami kebangkrutan. Korupsi besar-besaran yang pernah terjadi di negara ini menjadi salah satu penyebab bangkrutnya Argentina. Tahun 2001, Argentina dinyatakan bangkrut karena gagal membayar utang negara sebesar US$100 miliar atau Rp1.440 triliun. 
    Kemudian tingkat pengangguran juga melonjak sampai 25 persen. Diperkirakan nyaris 40 ribu orang menjadi tunawisma baru dan bertahan hidup dengan cara mengais-ngais sampah. Argentina mengajukan utang ke IMF untuk mengatasi krisis ekonomi yang pernah terjadi saat itu. Krisis terjadi karena kenaikan inflasi yang signifikan sehingga mata uangnya anjlok 40%. 
  3. Zimbabwe
    Zimbabwe terlilit utang hingga US$4,5 miliar atau Rp64,8 triliun pada 2008. Tingkat pengangguran Zimbabwe juga melonjak hingga 80 persen.
    Masyarakat Zimbabwe berhenti menggunakan bank. Bahkan, mereka juga berhenti membayar pajak dan tak menggunakan mata uang nasional sebagai alat transaksi jual beli.
    Zimbabwe juga mengalami hiperinflasi. Masyarakat tak lagi bisa menjangkau harga bahan-bahan pokok.
    Dengan demikian, uang seperti tak berarti bagi masyarakat Zimbabwe selama harga barang terus melonjak. Mereka lebih memilih sistem barter.
  4. Venezuela
    Venezuela merupakan salah satu negara pengekspor minyak terbesar di dunia. Sebagai negara yang dianugerahi tambang besar, Venezuela juga menggantungkan pendapatannya sekitar 95 persen dari penjualan minyak. Apalagi ketika itu, harga minyak sedang tinggi.
    Sehingga pemerintah tidak terlalu memperhatikan sektor lainnya.  Akan tetapi keadaan terbalik, saat harga minyak dunia turun drastis dan salah pengelolaan dari hasil penjualan minyak itu yang membebani anggaran pemerintah yang mengakibatkan defisit anggaran negara cukup tinggi. Venezuela pernah terlilit utang sebesar US$65 miliar atau setara dengan Rp931 triliun.
  5. Ekuador
    Ekuador menyatakan tak mau membayar utang pada 2008 lalu. Pemerintah mengatakan utang dari hedge fund asal AS tak bermoral.
    Ekuador sebenarnya mampu untuk membayar utang yang mencapai US$10 miliar atau Rp144 triliun. Negara itu memiliki sumber daya alam cukup banyak.
    Namun, pemerintah lebih memilih tak membayar utang. Pemerintah saat itu mengklaim utang negara di masa lalu disebabkan aksi korupsi di pemerintahan sebelumnya.
    IMF mencatat ekonomi Ekuador masih tumbuh. Pada 2014 misalnya, ekonomi Ekuador tumbuh 5,1 persen pada 2012.
    Sementara, Ekuador mendapatkan pinjaman sebesar US$643 juta atau Rp9,25 triliun dari IMF pada 2020. Dana itu digunakan untuk pembiayaan darurat menangani pandemi covid-19.

Baca juga: Sri Lanka Bangkrut, Kok Bisa?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.