Fakta-fakta Varian Terbaru Omicron Subvarian BA.4 dan BA.5, Apakah Lebih Berbahaya?

Fakta-fakta Varian Terbaru Omicron Subvarian BA.4 dan BA.5, Apakah Lebih Berbahaya?

Kasus Covid-19 di Indonesia kembali mengalami peningkatan dengan jumlah kasus harian beberapa hari terakhir tembus sebanyak 500 kasus. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, kenaikan kasus ini imbas dari adanya subvarian Omicron BA.4 dan BA.5.

“Jadi kita confirm bahwa kenaikan ini memang dipicu oleh adanya varian baru dan ini juga yang terjadi sama di negara-negara di luar Indonesia yang mgkin hari raya keagamaannya berbeda-beda dengan kita. Jadi tiap kali ada varian baru itu (kasus) naik,” kata Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin.

Fakta-fakta subvarian Omicron BA.4 dan BA.5

Fakta varian baru Omicron

  1. Terdeketksi pertama kali di Afrika Selatan
    BA.4 dan BA.5 pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan masing-masing pada Januari dan Februari 2022, dan sejak itu menjadi varian dominan di sana. Afrika Selatan telah melihat peningkatan pesat dalam tes positif untuk COVID-19, dan pihak berwenang percaya bahwa BA.4 dan BA.5 bertanggung jawab atas peningkatan ini.
  2. Mutasi protein lonjakan
    Kedua subvarian mirip dengan Omicron BA.2. BA.4 dan BA.5 memiliki mutasi yang identik pada protein lonjakan — bagian dari virus yang menempel pada reseptor pada sel manusia — yang membedakannya dari BA.2.
  3. Terdekteksi di banyak negara
    Melansir Medical News Today, sejauh ini, BA.4 dan BA.5 telah diidentifikasi di beberapa negara selain Afrika Selatan. Menurut laporan dari Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA), dengan data hingga 22 April, BA.4 hadir di Austria, Inggris, AS, Denmark, Belgia, Israel, Jerman, Italia, Kanada, Prancis, Belanda, Australia, Swiss, dan Botswana.
    Pada tanggal yang sama, otoritas kesehatan telah mengidentifikasi BA.5 di Portugal, Jerman, Inggris, AS, Denmark, Prancis, Austria, Belgia, Hong Kong, Australia, Kanada, Israel, Norwegia, Pakistan, Spanyol, dan Swiss.
  4. Penularan
    Sub-varian BA.4 dan BA.5 dapat menghindari antibodi dari infeksi sebelumnya tetapi jauh lebih sedikit mampu berkembang dalam darah orang yang divaksinasi COVID-19.
  5. Belum ada bukti peningkatan keparahan
    Menurut Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC), saat ini tidak ada indikasi perubahan tingkat keparahan BA.4/BA.5 dibandingkan dengan garis keturunan Omicron sebelumnya. Meski begitu, BA.4 dan BA.5 termasuk sebagai varian Omicron yang menjadi variant of concern atau varian perhatian.
  6. Gejala yang dirasakan
    Menurut Ketua Pokja Infeksi Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), dr Erlina Burhan, SpP(K) menjelaskan bahwa gejala yang ditimbulkan saat terinfeksi Omicron BA.4 atau BA.5, mirip dengan Omicron BA.1.
    – Batuk: 89 persen
    – Fatigue atau kelelahan: 65 persen
    – Hidung tersumbat atau rinore: 59 persen
    – Demam: 38 persen
    – Mual atau muntah: 22 persen
    – Sesak napas: 16 persen
    – Diare: 11 persen
    – Anosmia atau ageusia: 8 persen

Baca juga: Kasus Positif Meningkat, Perlukah Vaksin Covid-19 Dosis Keempat?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.